etika berdemokrasi dalam perspektif islam
Ceramah
I
Indah Rachmawati
5 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ... (Diam sejenak) ... الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
... (Diam sejenak) ...
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. [آل عمران: 102]
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Hadirin sekalian, para tokoh agama, tokoh masyarakat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari yang saya cintai karena Allah. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini dalam keadaan sehat wal afiat.
Shalawat serta salam senantiasa kita sampaikan kepada junjungan alam, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang singkat namun berharga ini, perkenankan saya untuk menyampaikan sebuah tema yang relevan dengan kondisi kita saat ini, yaitu "Etika Berdemokrasi dalam Perspektif Islam". Di tengah hiruk-pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara, seringkali kita mendengar istilah demokrasi. Namun, bagaimana sesungguhnya Islam memandang demokrasi? Apakah ada kesesuaiannya dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam?
Saudara-saudari yang dirahmati Allah,
Demokrasi, pada intinya, adalah sistem pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Rakyat berhak memilih wakil-wakil mereka untuk duduk di pemerintahan dan menentukan arah kebijakan negara. Dalam Islam, prinsip musyawarah atau *syura* merupakan fondasi penting dalam pengambilan keputusan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Asy-Syura ayat 38:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Dan orang-orang yang menerima (menjalankan) perintah Tuhannya, mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan sebahagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya musyawarah. Ini sejalan dengan semangat demokrasi di mana aspirasi rakyat didengar dan diakomodir. Namun, demokrasi dalam Islam memiliki batasan dan etika yang jelas. Kita tidak bisa sembarangan dalam berdemokrasi. Ada prinsip-prinsip yang harus dijaga.
Pertama, kejujuran dan amanah. Dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, kita harus memilih orang yang benar-benar jujur, memiliki integritas, dan mampu mengemban amanah. Rasulullah SAW bersabda:
«إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ». قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ إِضَاعَةُ الأَمَانَةِ؟ قَالَ: «إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ». (رواه البخاري)
Artinya: "Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat." Para sahabat bertanya, "Bagaimana amanah disia-siakan, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Apabila urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat." (HR. Bukhari)
Ini sangat relevan dengan proses demokrasi. Memilih pemimpin yang tidak cakap, tidak jujur, atau hanya mementingkan kepentingan pribadi berarti telah menyia-nyiakan amanah yang besar.
Kedua, menjaga persatuan dan ukhuwah Islamiyah. Dalam proses demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan ini tidak boleh sampai memecah belah persatuan umat. Kita tidak boleh saling mencaci maki, menghasud, atau menyebarkan fitnah demi memenangkan kontestasi politik. Ingatlah firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan antara) kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Kita harus mampu bersikap santun, menghargai perbedaan, dan menggunakan akal sehat serta hati nurani dalam setiap tahapan demokrasi.
Ketiga, memilih pemimpin yang adil dan memiliki visi kebaikan. Islam sangat menekankan pentingnya keadilan. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang tidak membeda-bedakan umatnya, yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat, dan yang senantiasa berusaha menegakkan kebenaran. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (An-Nisa': 58)
Oleh karena itu, ketika kita memilih pemimpin, pastikanlah ia adalah orang yang memiliki komitmen kuat terhadap keadilan.
Saudara-saudari sekalian,
Demokrasi dalam Islam bukanlah sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sebuah proses yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan akhlak mulia. Etika berdemokrasi dalam Islam adalah bagaimana kita menggunakan hak pilih kita untuk kebaikan umat, menjaga persatuan, dan memilih pemimpin yang adil.
Mari kita renungkan kembali. Apakah pilihan kita selama ini sudah sesuai dengan ajaran agama? Apakah kita sudah menjadi warga negara yang baik sekaligus muslim yang taat? Adakah di antara kita yang memecah belah hanya karena perbedaan pilihan politik?
Marilah kita jadikan momentum setiap proses demokrasi sebagai ajang untuk mengamalkan nilai-nilai Islam. Tunjukkanlah kepada dunia bahwa umat Islam mampu berdemokrasi dengan cara yang islami, yaitu dengan akhlak yang terpuji, kedewasaan berpolitik, dan selalu mengutamakan kemaslahatan umat.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk senantiasa berada di jalan yang lurus dan diberkahi. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.